“Luv, kamu tahu arti cerahnya matahari sore ini?” tanya ku kepada nya, yang berarti di hidupnya.
“Apa Buns?” Sambil terus menatap matahari yang di pandang oleh nya.
“Matahari itu, bagian penting dari manusia. Kita tak bisa juga hidup tanpa nya. Walaupun ada siang dan ada malam.”
“Tapi Bulan yang selalu menemani di malam hari juga penting Buns.” Tak kalah ia setelah menerima pernyataan Luv. Mereka terus menatap matahari sore yang menjadi topik hangat kedua manusia yang sedang di landa ketidakpastian. Mereka berpegangan tangan seraya membuang keluh kesah yang terpedam berlarut-larut.
“Buns, Jangan menangis lagi ya?” Dengan wajahnya yang secerah matahari, Luv pun tersenyum simpul yang mengisyaratkan kesan mendalam atas perkataan Buns kepadanya.
“Luv, Kita itu Matahari dan Bulan. Kehilangan satu di antara kita pun, pasti terasa berat. Apapun yang kau lakukan pun, aku pasti tahu. Dan kau pun tahu kalau aku merasakan hal apapun.” Ia menyadari, tanpa Buns ia tak kan bisa mengalahakan semua rasa yang membebani dirinya. Dengan nafas yang seperti kehilangan oksigen, Ia merasa dadanya nyeri yang seakan-akan akan segera menghabisi nyawanya saat itu juga. Ia tahu bahwa Buns segalanya untuk nya. Dengan sekuat tenaga, ia berusaha menghindar dan membuang jauh-jauh jeratan yang akan membuatnya merugi sampai kapan pun.
“Buns, aku sayang kamu.” Air mata nya yang mengalir tanpa henti hanya bisa menjelaskan apa yang ia rasakan.
“Tetaplah disini, disini sampai kau muak menemaniku… Hari ini….”
set (c) KIRANA
set (c) KIRANA



0 comments:
Post a Comment