Image and video hosting by TinyPic

Thursday, January 27, 2011

Terbesit Dirimu

Kesendirian itu terkadang menyenangkan. Mengapa tidak? Disaat sendiri, kita bisa berpikir tentang makna kehidupan yang selama ini kita lupakan atau hanya melaluinya tanpa arti. Aku menyadari ini saat ia sudah tak lagi disisi ku. Tak lagi menemani senyum bahagia dan tetesan duka ini. Sambil menengadah ke arah langit yang sangat sangat luas dengan hamparan awan yang bergerumul. Cantik, teramat sangat cantik jika dinikamati hanya seorang diri. Aku sudah berjanji untuk tak meneteskan air mata ini jika mengingat dirinya. Di padang ilalang yang menguning dan rimbun, sambil merebahkan diri diatas batu besar yang memang tersedia untuk tempat merenung, aku terus merenungi kepergiannya yang sudah delapan tahun ini. Apa aku sudah cocok disebut sebagai wanita dewasa?. Atau hanya sebagai seorang anak perempuan yang tak sanggup menahan tangis??. Memang, dia tak berharga lagi bagiku dan hidupku. Aku tak menghiraukan ketidak hadiran dirinya lagi setelah kita berpisah. Tapi, sesaat aku merindukan dirinya yang berdiri disampingku seperti itu lagi.

HALUSINASI!!!
Aku terus meyakinkan diriku, bahwa ini hanyalah omong kosong seorang wanita yang dilanda kesepian, kesepian akan cinta.  Ilalang yang menguning itu terus bergoyang diterpa angina. Begitu lembut di mataku, bagaikan lambaian ramah dari seseorang yang sudah lama dikenal. Aku menutup mata untuk beberapa puluh menit, tanpa tahu apa yang aku pikirkan. Aku terus mendengarkan bisikkan angin yang membisiki ku kata-kata yang menenangkan hatiku yang benar-benar dilanda gundah, asa, dan penuh kesedihan ini. Memang cerita kita telah usai, telah tenggelam dan tak kan pernah kembali lagi. Tapi, apa aku salah jika  megingat cerita ini sekali lagi?. 



Inspirasi : Tohpati ft Glenn F – Jejak Langkah Yang Kau Tinggalkan



set (c) KIRANA
READ MORE - Terbesit Dirimu

Wednesday, January 26, 2011

Pembicaraan Akhir Dari Senyum Yang Berarti [BAGIAN 2]

Hari yang tak diinginkan akhirnya datang. Dan diri ini sudah dipersiapkan untuk segala kondisi yang tak masuk dalam rencana. Terutama untuk bertemu dengannya, dengan seseorang yang sudah meninggalkan serpihan hati ini. Acara perpisahan sekolah, biasana hal yang sangat dinanti oleh banyak siswa, seakan-akan ini adalah kegiatan yang sakral sebelum melepaskan diri dari sekolah yang penuh kenangan. Terlihat di wajah mereka, gembira dan tak ada satupun wajah suram menghiasi acara perpisahan sekolah hari ini. tapi hanya aku yang berwajah murung dari sekian banyak wajah ceria. Aku tak bisa berada di sini, tak bisa aku berada dalam keramaian ini.

Acara berlangsung bagaikan alunan lagu, begitu saja mengalir tanpa henti sampai pada akhirnya harus kembali pulang. Memang wajahku yang suram ini sudah banyak mengundang pertanyaan dari berbagai pihak. Aku hanya menepis dengan tersenyum yang tak bernyawa. Tak lama, seseorang tak kuinginkan datang mendekat. Dan langsung duduk di bangku ku yang memang tak seorang pun ingin berada disana sedari pagi.

Dia      : Bolehkah aku duduk disini? Jika kau tak keberatan. (dengan melempar senyum     
  lembutnya)
Aku     : Silahkan saja. Tidak ada larangan, karena memang tempat duduk itu kosong.
Dia      : (Langsung duduk dengan tenang dan memandang wajahku)
Aku     : Kenapa? Ada yang aneh? (sambil melihat ke diri sendiri)
Dia      : Tidak. (dengan senyumannya yang lembut dan tatapan mata yang penuh arti.)
Aku     : Mau membicarakan apa lagi? (dengan nada kesal)
Dia      : Kita… Mau membicarakan tentang kita.
Aku     : (Buat apa dibicarakan lagi?) Bukannya sudah selesai? Untuk apa dibicarakan
  lagi?
Dia      : Untuk terus mengingatkanmu, bahwa aku takkan pernah meninggalkanmu.
  Walaupun aku meninggalkan hatimu.
Aku     : Aku tak bisa, aku tak bisa jika kau terus memperlakukan ku seakan tak terjadi    
  hal yang menyakitkan di antara kita.
Dia      : Tapi aku tak bisa melihatmu seperti ini!!! (menatap wajahku dan menggenggam
  jemariku.) Aku masih sayang kamu.

Seketika itu jantungku seakan berhenti berdetak dan air mata tak terasa membasahi pipiku yang dengan sigap tangannya mengusap air mata ku yang mengalir. Aku tak bisa menerimap pernyataannya yang menyayangi ku sedangkan dengan tenangnya ia memutuskan hubungan cinta ini?

Dia      : Jangan pernah kamu lupakan aku. Jangan pernah!
Aku     : Mungkin tak akan pernah melupakanmu, tapi seiring waktu, kau akan tenggelam
  di dasar hatiku.
Dia      : Tolong…. Tolong, jangan pernah lupakan aku. (Dengan wajahnya yang
  memelas, aku benar-benar tak bisa menahan air mataku. Apa yang harus
  kuperbuat?)
Aku     : Tolong, jangan paksa aku untuk tersenyum untuk mu saat ini. Aku tak bisa
  bersikap seolah-olah kau tetap menyinari hidupku seperti biasanya. AKU TAK
  BISA!!!




set (c) KIRANA
READ MORE - Pembicaraan Akhir Dari Senyum Yang Berarti [BAGIAN 2]

Tuesday, January 25, 2011

Jendela Harapan

Menunggu. Menunggu dan terus menunggu. Sampai hati ini puas menanti apa yang dinanti. Apa yang ditunggu pun samar, tak jelas. Tapi hati ini tak bisa teriak ingin berhenti. Sudah beratus-ratus juta detik aku menunggunya datang untuk menjemputku. Aku tak ingin orang lain yang tiba lebih dulu untuk menjemputku.  Aku terus memandang langit yang jauh itu, apakah ia akan segera datang untuk menjemputku?.
Orang tuaku sudah terus menanyai dan membujukku untuk meninggalkan jendela kesukaanku berpangku tangan.

“Sayang, bisakah kau meninggalkan jendela tempatmu menaruh harapan kosongmu itu?”
Suara Bunda ku tersayang yang selalu menyapaku di tengah lamunan kosong ini terus berkelana. Aku yang langsung menoleh ke arah suara yang menanyaiku dengan cepat aku tersenyum penuh harapan agar Bunda mengerti apa yang kurasakan tanpa harus kujelaskan berulang kali. Ia hanya membalas dengan senyum yang sangat mengkhawatirkan ku. Memang, aku bersalah jika melihat Bunda yang tersenyum seperti itu. Tapi hati ini tak bisa lari dari harapan kosongku ini untuknya. Menyedihkan memang, tapi aku masih ingin menunggunya, menunggunya untuk ku.

Semakin dinanti, semakin tak terlihat getir harapan itu. Cahaya matahari yang meredup dan pelangi pun enggan menampakkan sinarnya yang indah itu, memaksa ku untuk segera menutup jendela tempat ku menanti dirinya. Haruskah ku tutup jendela ini? haruskah sekarang?.

“Naya….”
Suara lembut yang tak di nanti pun datang. Sudah saatnya aku harus pergi meninggalkan jendela yang penuh harapan kosong. Walaupun hatiku berat meninggalkan dirinya, tapi aku harus pergi mengikuti suara yang tak kuinginkan itu. Selamat tinggal, selamat tinggal cintaku. 



Inspirasi : Melly G – Gantung



set (c) KIRANA
READ MORE - Jendela Harapan

Wednesday, January 19, 2011

Awal Dari PENGAKHIRAN

Membuka mata yang diyakini tak kan terbuka
Menggerakkan yang sudah tak bernyawa
Menyapa kembali alam
Yang sudah lama padam

Masih tersisa
Sedikit asa
Tanpa disadari
Kembali berdiri

“Selamat pagi dunia!”
Cahaya harapan baru
Yang menderu-deru
Menyapa wajahku yang biru



set (c) KIRANA
READ MORE - Awal Dari PENGAKHIRAN

AKANKAH?

Di sudut hati terpancar sinar
Harapan berbinar
Benarkah?
Akankah?



set (c) KIRANA
READ MORE - AKANKAH?

Satu Titik

Satu titik
Dua titik
Tiga titik
Berapa banyak pun titik itu
Tak kan pernah penuh
Tanpa diri mu




set (c) KIRANA
READ MORE - Satu Titik

Kehilangan Arah

Menghitung bintang, tak cukup
Menanti mentari, tak cukup
Mengejar angin, tak cukup
Menyelami lautan, tak cukup

Sendiri
Menyendiri
Berdiri
Diri sendiri

Mau dibawa kemana jiwa ini?
Mau dibawa kemana diri ini?
Mau dibawa kemana perasaan ini?
Mau dibawa kemana dunia ku ini?

Karena aku…
Kehilangan arah…




set (c) KIRANA
READ MORE - Kehilangan Arah

Sebongkah Hatiku Padamu

Sebongkah hatiku yang kutitipkan padamu
Sebongkah hatiku yang kuselamatkan padamu
Sebongkah hatiku yang terkurung
Sebongkah hatiku yang murung

Sebongkah hatiku yang memang tak terjaga
Sebongkah hatiku yang merana
Sebongkah hatiku yang rapuh
Sebongkah hatiku yang gaduh

Tak tahu maunya apa
Tak tahu harus bagaimana
Tak tahu dimana
Tak tahu mau kemana


Sebongkah hatiku yang telah kutitipkan padamu
Dan sebongkah hatiku yang ku ambil lagi darimu




set (c) KIRANA
READ MORE - Sebongkah Hatiku Padamu

Monday, January 17, 2011

Pembicaraan Akhir Dari Senyum Yang Berarti [BAGIAN 1]

Malam itu, suara telepon berdering. Karena memang hanya aku yang kebetulan melintasi keberadaan suara itu, jadi segeralah ku angkat gagang telepon yang sudah meraung-raung.

Dia      : Hallo?
Aku     : Hallo…
Dia      : Maaf, aku baru bisa menghubungi mu.
Aku     : Oh, tak apa. Yang penting kau sehat-sehat saja.
Dia      : Apa aku mengganggu mu malam ini?
Aku     : Tidak, aku malah menanti mu.
Dia      : Tapi… tapi aku tak tahu, aku malam ini pasti menyakitimu.
Aku     : ???
Dia      : (Diam beberapa menit) Aku sayang kamu, dan kamu pun tahu kalau aku juga
   menyayangi mu.

Ia terus saja diam, dan aku tetap menantinya untuk melanjutkan pembicaraan. Entah akan berakhir bagaimana pembicaraan ini.

Aku     : Kamu baik-baik saja disana?
Dia      : Baik.. Sangat baik.
Aku     : Oh.. (dengan nada yang memang dibuat sedemikian rupa agar tak terlihat
  kawatir).
Dia      : Kamu mau janji padaku?
Aku     : Janji apa? Sebisa mungkin, aku akan menepati janji ku.
Dia      : Aku tak ingin kau menangis lagi, tak ingin kau menangis hanya karena aku.
Aku     : Mengapa kau berbicara begitu? Kau segalanya untuk ku.
Dia      : Dan kau segalanya untuk ku. (Hening beberapa saat) kalaupun kau menangis,
  berjanjilah, hanya untuk terakhir kali ini saja.
Aku     : Ia… (Ia menyetujui dengan nada suara yang sumbang).

Lelaki itu menarik nafas panjang dan menghela nafas dengan sangat berat dan terasa menyakitkan.

Dia      : Aku ingin hubungan kita berakhir…
Aku     : A-apa??

Suara ku tercekat, aku tak bisa membalas ucapannya sepatah kata pun. Ledakan tangis pun tak bisa kutahan walaupun aku sudah berjanji untuk tak mengeluarkan setetes air mata pun. Aku tak bisa berpikir jernih apa yang ia pikirkan sampai harus menyudahi perjalanan kisah ini?. Ia tetap disana, disana sampai aku puas mengeluarkan sesak yang mendadak hinggap dalam dadaku. Ia tak berbicara sepatah katapun, ia hanya menunggu atau mungkin mendengarkan suara tangisku yang memang menyayat telinga siapapun yang mendengar. Aku terus saja menangis tersedu-sedu tanpa mengindahkan perasaan dia yang terus menemani aku yang sedang hancur di seberang telepon. Dan entah berapa lama aku menguras semua air mata ku di depan gagang telepon.

Aku     : Aku tak apa jika kau ingin aku melepasmu (dengan suara terisak).
Dia      : Kamu sudah tenang? (dengan nada yang sangat-sangat lembut).
Aku     : Ya….
Dia      : Aku disini, sampai kau puas menangis. Karena kau janji, kau tak kan menangis
  lagi hanya karena aku.
Aku     : Tidak… Aku sudah janji, dan aku sudah cukup menangis hari ini.
Dia      : Baiklah.. Kalau kau sudah puas menangis hari ini. Pesan ku hanya satu, jangan
pernah kau lupakan aku, jangan pernah kau bersikap seolah-olah tak kenal
dengan ku. Kamu mau janji kan?
Aku     : Ya… (dengan nada suara yang tak bisa menyembunyikan kehancuran yang amat
  sangat).














set (c) KIRANA
READ MORE - Pembicaraan Akhir Dari Senyum Yang Berarti [BAGIAN 1]

Sunday, January 16, 2011

Layangan Putus

Walaupun komunikasi di antara kita tidak berjalan dengan baik, tapi satu hal yang pasti. Kamu selalu mendengar apa yang kukatakan, mau itu hanya sekedar cerita setiap hari atau hanya keluh kesah semata. Kamu selalu tersenyum jika aku menatap wajahmu yang penuh dengan harapan. Memang, bagi sebagian orang dirimu sangat tak berarti bagiku. Mengapa tidak? karena memang sedikit pun kau tak tunjukkan perhatian mu di depan orang banyak terhadap ku. Terkadang aku berpikir, apakah aku memang gadis yang kau pilih? Walaupun cerita kita kandas hanya dengan satu minggu, tapi dirimu tetap mempertahankan pertemanan diantara kita sampai sekarang. Akankah cerita kita terulang kembali di masa sekarang ini? 





set (c) KIRANA
READ MORE - Layangan Putus

Saturday, January 15, 2011

Katakan Sekali Lagi

Benar saja, sinar matahari yang sedikit menyiksa mata telah menyapa diriku yang terlelap entah sejak kapan berada di atas meja belajar. Ternyata aku tertidur diatas buku harian yang sedang kutulis malam itu. Memang, aku sedang sangat tidak bersemangat. Ingin rasanya aku tak ingin membuka mata ku lagi. Entah apa yang ku tulis sampai tak ku mengerti apa yang sebenarnya ku tulis. Matarari pagi ini memang seperti memaksa ku untuk mengarungi hari yang tak ingin kulalui.
“Bisakah engkau menunggu sampai aku siap bermandikan keringat di bawah sinar cemerlang mu?” Aku mencoba untuk merayu matahari untuk segera membiarkan ku tak beranjak dari dalam kamar ku. Tapi suara handphone ku berbunyi dengan kencangnya sampai membuatku tersadar dari lamunan. Aku beranjak dari kursi yang dari tadi menahan tubuhku untuk tak bergerak dari tempatnya. Dari siapa kah gerangan SMS ini? Segera saja kubuka SMS yang tak bernama itu.

“Lup Yaaa…”

Tak sadar air mata ku jatuh dengan derasnya. Hanya satu kalimat itu, jantung ku tetap bisa bernafas. Tak ada kalimat lain yang seindah kalimat itu. Ya Allah, Sadarkan aku, bahwa rasa ini tak kan mungkin bersemi selamanya. Sadarkan aku, bahwa rasa ini tak akan pernah kekal seperti yang sudah-sudah. Tapi dalam hatiku, aku sangat menyayangi dirinya. Lebih daripada aku menyayangi diriku sendiri.






set (c) KIRANA
READ MORE - Katakan Sekali Lagi

Friday, January 14, 2011

K O S O N G

















































Cuma




































Kamu










































set (c) KIRANA
READ MORE - K O S O N G

Thursday, January 13, 2011

RUNTUH!!

Aku hanya menatap langit, langit yang bukan milikku lagi. Langit yang tak kan pernah tersenyum untukku lagi. Langit yang sekarang menolak wajahku jika aku menatap wajahnya kali ini. Tak kan ada lagi pelangi, tak kan ada lagi matahari sore ku, tak kan ada lagi, malam ku yang penuh bintang harapan.

Runtuh…
Luluh lantah…



set (c) KIRANA
READ MORE - RUNTUH!!

Wednesday, January 12, 2011

Kamu

Aku terus memandang matahari yang seakan menyentuh wajahku yang sudah berlumuran dengan air mata keputusasaan. Entahlah, aku juga tak mengerti suara hati ini entah mau dibawa kemana. Dengan dentuman suara gitar akustik yang berasal dari headset putih hitam kesayangan ku, mengalun lembut dan penuh rasa ketenangan yang terus menemani kesedihan dan kesepian ku sore ini.
“Mau kemana kah tubuh ini berjalan?” Aku terus bertanya pada diriku yang sedang tak kukenali ini.
Butiran-butiran air mata yang mengandung teriakan-teriakan yang tak bisa kuteriakan secara gamblang kepada dunia. Teriakan keputusasaan, teriakan penyesalan, teriakan ketidakpastian. Aku yang terus memandangi langit dengan sinar matahari sore yang sangat kusuka, dan berharap ia akan datang menjemputku pulang, atau hanya sekedar menemukan ku disini?
“Matahari… aku merindukannya disini, di sampingku…” Aku terus saja bergumam tanpa sadar, terus memanggil-manggil namanya. Dan tak henti-hentinya memanggil nama nya. Senja sudah terasa di sekujur tubuh, saatnya untuk segera pulang. Segera kembali ke dunia asal ku, dimana tanpa dirinya aku pasti bisa menyelam di dunia ku yang suram seperti sedia kala. Aku merapihkan tas ku dan bergegas bangkit dari tempat duduk ku yang nyaman di sore hari ini.

“BUNS!!!!” Suara yang sangat ku kenal, sangat ku tunggu, sangat ku rindukan. Aku langsung menoleh ke arah suara yang memanggil nama ku. Aku melihatnya, melihat matanya, melihat senyumannya, melihat wajahnya yang seakan tak ingin kehilangan ku, kehilangan diriku yang seperti ini. Tanpa basa-basi langsung aku menyambutnya dengan pelukan yang sangat kurindukan. Aku menangis tersedu-sedu di dadanya yang kokoh dan penuh perlindungan. Ya Allah, mengapa hanya dia yang terus ingin kutemui? Banyak pertanyaan serupa berkecamuk di otak ku.
“Buns, pulang yuk! Sudah mau magrib. Yuk!” Dia langsung memegang tangan ku dengan lembut dan mengantarkan ku pulang. Ya Allah, aku tak ingin melepas tangannya walaupun hanya sedetik. 






set (c) KIRANA
READ MORE - Kamu

Thursday, January 6, 2011

THIS WORLD IS YOURS (Dunia ini Milikmu)

Inspired : Plingmin Band

THIS WORLD IS YOURS



“KENTA….!!!”
Lelaki yang sedang melamun di beranda rumah berlantai dua hanya menghisap rokok nya dengan sangat tidak peduli dengan suara yang memanggilnya. Entah apa yang ada di pikirannya.
“KENTAAAA…!!!!”
Sekali lagi, laki-laki berambut kuning itu tak menggubris suara yang sudah naik menjadi tiga oktaf.
“Kenta…??”
Lelaki itu akhirnya menoleh ke arah suara yang memanggilnya dan dengan tatapan yang sangat putus asa, ia hanya memandang orang yang memanggilnya tanpa berbicara sepatah kata pun.
“Kenta, kamu kenapa sih??”
“Tidak apa-apa. Memangnya apa urusan mu?” Dengan nada yang sangat menusuk.
“Urusan ku? Urusan ku banyak dengan mu!!”
“Pulanglah…”
“Pulang?? Aku kesini untuk menemuimu!!”
Lelaki itu kembali menatap langit sambil menghisap rokok yang hampir habis.

“Kamu tahu? Terkadang berdiam diri seperti ini jalan terbaik untuk sementara.”
Puntung rokok yang baru saja habis di taruh di asbak dekat dengan kakinya. Ia menghela nafas dengan sangat panjang.
“Aku tak tahu harus kemana....”
(Grebb!) Pelukan lembut telah membuat air mata Kenta mengalir kian deras tanpa ia sadari.
“Kimiko…….”
“Aku disini Kenta!! Tidak kah kau lihat aku berjuang untuk menemui mu?” Kenta menghapus air mata nya dengan sangat emosi. Ia tahu hanya Kimiko yang bisa mengerti dirinya tanpa harus ia berbicara panjang lebar.
“Aku disini Kenta, Aku disini untuk mu…” Perempuan itu terus memeluk Kenta dengan penuh kasih sayang. Terlihat Kenta yang melemas di pelukan Kimiko sambil terus menangis.
“Aku GILA… Aku tak tahu apa yang harus kulakukan!!!” Tangisan Kenta membuat Kimiko ikut menangis sambil terus mengusap rambut Kenta dan menguatkan hatinya.
“Kenta, kau harus kuat…. Bagaimanapun mereka menilai dan memandang kita, tapi kita harus menunjukkan bahwa DIRI KITA adalah yang terbaik dan bisa melakukannya…” Kimiko mengusap air mata Kenta yang masih kian derasnya. Kenta berusaha menghentikan air mata yang telah ia tahan-tahan selama ini, di usap dengan kasar berkali-kali sampai akhirnya air mata itu berhenti dengan sendirinya.
“Mereka tak tahu apa yang ku perbuat, tak tahu bagaimana aku berusaha, hanya mengerti aku yang buruk-buruk saja tanpa bertanya atau mencari tahu lebih jelas!!” Suara Kenta menjadi tinggi dua oktaf karena amarah telah menyelimuti hatinya. Kenta berasal dari keluarga broken-home.
“Keluarkan saja apa yang kau rasakan Kenta…” Kimiko tetap dengan penuh senyum kasih sayang di samping Kenta, dan lelaki itu menuangkan rasa amarah, benci, sedih, sakit hati dan merasa tak berdaya kepada Kimiko dengan tatapan penuh keputus asaan. Kimiko hanya mendengarkan dengan penuh perhatian dan menjadikan Kenta sebagai orang yang berarti penuh baginya. Terkadang orang dewasa tak bisa mendengar apa yang kita rasakan walau sudah berusaha keras berteriak. Atau mereka yang tak ingin mendengar kita??

“Kimiko?”
“Iya Kenta, aku disini.” Dengan senyum manis Kimiko menatap wajah sembab Kenta.
“……….” Kenta langsung mengurungkan niatnya untuk melanjutkan kalimatnya.
“YUK PERGI…” Kimiko dengan senyum yang sangat membuat hati kenta merasa nyaman mengulurkan tangannya ke arah Kenta.
“Kali ini aku yang mentraktir mu ya!!!” Dengan nada riang dan penuh senyuman, Kenta langsung menangkap tangan Kimiko dan menariknya keluar dari rumah. Mereka langsung mengeluarkan motor matic berwarna hitam dan langsung memacu ke arah yang di tuju. Langit biru yang sangat memancarkan cahaya kebahagiaan menemani mereka sampai di tempat tujuan.
“Ini..” Kenta menyodorkan es krim cokelat kesukaan Kimiko. Tak ada yang bisa membuat Kenta begitu bersemangat selain melihat senyum Kimiko.
“Waahh… Aku mau dua!!!” Dengan muka yang terus memamerkan sederet giginya, Kenta membelikan satu batang es krim dengan rasa yang sama dan memberikannya kepada Kimiko.
“Kali ini aku mau kau menuruti ku, OK!!”
“Apa??” Kenta langsung menggendong tubuh mungil Kimiko menuju ombak yang sudah memanggil-manggil mereka untuk segera membasahi badan.
“Kyaaaa!!!! Aku kan tak bawa baju ganti!!!” Kimiko menekuk wajahnya dengan kesal tapi langsung mengganti raut wajahnya dengan senyum bahagia.
“Tenang Kimiko, aku bawa baju ganti sebelum aku mengajakkmu kesini.”
“Jadi?? Kamu sudah menyiapkannya lebih dahulu??!!!” Mata Kimiko membelalak.
“Bohong nya sih, tidak.. Ahahahahaahaa!!!” Mereka menghabiskan siang ini bersenang-senang dengan air laut. Kebahagiaan memang tak bisa di beli dengan uang semata.

“Kimiko…”
“Ya?”
“Aku ingin terbang bersama mu…” Kimiko langsung memeluk Kenta dengan erat.
“Terbanglah…!! Karena Dunia ini Milikmu……!!!!”



set (c) KIRANA
READ MORE - THIS WORLD IS YOURS (Dunia ini Milikmu)

Wednesday, January 5, 2011

Sepenggal Sinar Matahari Sore

“Luv, kamu tahu arti cerahnya matahari sore ini?” tanya ku kepada nya, yang berarti di hidupnya.
“Apa Buns?” Sambil terus menatap matahari yang di pandang oleh nya.
“Matahari itu, bagian penting dari manusia. Kita tak bisa juga hidup tanpa nya. Walaupun ada siang dan ada malam.”
“Tapi Bulan yang selalu menemani di malam hari juga penting Buns.” Tak kalah ia setelah menerima pernyataan Luv. Mereka terus menatap matahari sore yang menjadi topik hangat kedua manusia yang sedang di landa ketidakpastian. Mereka berpegangan tangan seraya membuang keluh kesah yang terpedam berlarut-larut.
“Buns, Jangan menangis lagi ya?” Dengan wajahnya yang secerah matahari, Luv pun tersenyum simpul yang mengisyaratkan kesan mendalam atas perkataan Buns kepadanya.
“Luv, Kita itu Matahari dan Bulan. Kehilangan satu di antara kita pun, pasti terasa berat. Apapun yang kau lakukan pun, aku pasti tahu. Dan kau pun tahu kalau aku merasakan hal apapun.” Ia menyadari, tanpa Buns ia tak kan bisa mengalahakan semua rasa yang membebani dirinya. Dengan nafas yang seperti kehilangan oksigen, Ia merasa dadanya nyeri yang seakan-akan akan segera menghabisi nyawanya saat itu juga. Ia tahu bahwa Buns segalanya untuk nya. Dengan sekuat tenaga, ia berusaha menghindar dan membuang jauh-jauh jeratan yang akan membuatnya merugi sampai kapan pun.
“Buns, aku sayang kamu.” Air mata nya yang mengalir tanpa henti hanya bisa menjelaskan apa yang ia rasakan.
“Tetaplah disini, disini sampai kau muak menemaniku… Hari ini….”




set (c) KIRANA
READ MORE - Sepenggal Sinar Matahari Sore

Tuesday, January 4, 2011

DATANG LAGI!!!

Akhirnya ke urus juga inih Blog yang udah lama ga ke urus... Awalnya buat ini blog untuk ngikutin lomba blog Depok. Tapi, seiring ide yang keluar, di rombak lagi di jadikan ASPIRASI, ANTTOLOGI, MONOLOG, dll dari sang penulis untuk mencurahkan semua yang di rasakannya... 


Dan karena penulis senang menulis cerita pendek, novel, dan fan fiction, jadi Blog ini sanggup mewadahi EMOSI sang penulis...


SEMANGAT 45!!! MERDEKA!!!
READ MORE - DATANG LAGI!!!