Image and video hosting by TinyPic

Monday, January 17, 2011

Pembicaraan Akhir Dari Senyum Yang Berarti [BAGIAN 1]

Malam itu, suara telepon berdering. Karena memang hanya aku yang kebetulan melintasi keberadaan suara itu, jadi segeralah ku angkat gagang telepon yang sudah meraung-raung.

Dia      : Hallo?
Aku     : Hallo…
Dia      : Maaf, aku baru bisa menghubungi mu.
Aku     : Oh, tak apa. Yang penting kau sehat-sehat saja.
Dia      : Apa aku mengganggu mu malam ini?
Aku     : Tidak, aku malah menanti mu.
Dia      : Tapi… tapi aku tak tahu, aku malam ini pasti menyakitimu.
Aku     : ???
Dia      : (Diam beberapa menit) Aku sayang kamu, dan kamu pun tahu kalau aku juga
   menyayangi mu.

Ia terus saja diam, dan aku tetap menantinya untuk melanjutkan pembicaraan. Entah akan berakhir bagaimana pembicaraan ini.

Aku     : Kamu baik-baik saja disana?
Dia      : Baik.. Sangat baik.
Aku     : Oh.. (dengan nada yang memang dibuat sedemikian rupa agar tak terlihat
  kawatir).
Dia      : Kamu mau janji padaku?
Aku     : Janji apa? Sebisa mungkin, aku akan menepati janji ku.
Dia      : Aku tak ingin kau menangis lagi, tak ingin kau menangis hanya karena aku.
Aku     : Mengapa kau berbicara begitu? Kau segalanya untuk ku.
Dia      : Dan kau segalanya untuk ku. (Hening beberapa saat) kalaupun kau menangis,
  berjanjilah, hanya untuk terakhir kali ini saja.
Aku     : Ia… (Ia menyetujui dengan nada suara yang sumbang).

Lelaki itu menarik nafas panjang dan menghela nafas dengan sangat berat dan terasa menyakitkan.

Dia      : Aku ingin hubungan kita berakhir…
Aku     : A-apa??

Suara ku tercekat, aku tak bisa membalas ucapannya sepatah kata pun. Ledakan tangis pun tak bisa kutahan walaupun aku sudah berjanji untuk tak mengeluarkan setetes air mata pun. Aku tak bisa berpikir jernih apa yang ia pikirkan sampai harus menyudahi perjalanan kisah ini?. Ia tetap disana, disana sampai aku puas mengeluarkan sesak yang mendadak hinggap dalam dadaku. Ia tak berbicara sepatah katapun, ia hanya menunggu atau mungkin mendengarkan suara tangisku yang memang menyayat telinga siapapun yang mendengar. Aku terus saja menangis tersedu-sedu tanpa mengindahkan perasaan dia yang terus menemani aku yang sedang hancur di seberang telepon. Dan entah berapa lama aku menguras semua air mata ku di depan gagang telepon.

Aku     : Aku tak apa jika kau ingin aku melepasmu (dengan suara terisak).
Dia      : Kamu sudah tenang? (dengan nada yang sangat-sangat lembut).
Aku     : Ya….
Dia      : Aku disini, sampai kau puas menangis. Karena kau janji, kau tak kan menangis
  lagi hanya karena aku.
Aku     : Tidak… Aku sudah janji, dan aku sudah cukup menangis hari ini.
Dia      : Baiklah.. Kalau kau sudah puas menangis hari ini. Pesan ku hanya satu, jangan
pernah kau lupakan aku, jangan pernah kau bersikap seolah-olah tak kenal
dengan ku. Kamu mau janji kan?
Aku     : Ya… (dengan nada suara yang tak bisa menyembunyikan kehancuran yang amat
  sangat).














set (c) KIRANA

0 comments:

Post a Comment