Menunggu. Menunggu dan terus menunggu. Sampai hati ini puas menanti apa yang dinanti. Apa yang ditunggu pun samar, tak jelas. Tapi hati ini tak bisa teriak ingin berhenti. Sudah beratus-ratus juta detik aku menunggunya datang untuk menjemputku. Aku tak ingin orang lain yang tiba lebih dulu untuk menjemputku. Aku terus memandang langit yang jauh itu, apakah ia akan segera datang untuk menjemputku?.
Orang tuaku sudah terus menanyai dan membujukku untuk meninggalkan jendela kesukaanku berpangku tangan.
“Sayang, bisakah kau meninggalkan jendela tempatmu menaruh harapan kosongmu itu?”
Suara Bunda ku tersayang yang selalu menyapaku di tengah lamunan kosong ini terus berkelana. Aku yang langsung menoleh ke arah suara yang menanyaiku dengan cepat aku tersenyum penuh harapan agar Bunda mengerti apa yang kurasakan tanpa harus kujelaskan berulang kali. Ia hanya membalas dengan senyum yang sangat mengkhawatirkan ku. Memang, aku bersalah jika melihat Bunda yang tersenyum seperti itu. Tapi hati ini tak bisa lari dari harapan kosongku ini untuknya. Menyedihkan memang, tapi aku masih ingin menunggunya, menunggunya untuk ku.
Semakin dinanti, semakin tak terlihat getir harapan itu. Cahaya matahari yang meredup dan pelangi pun enggan menampakkan sinarnya yang indah itu, memaksa ku untuk segera menutup jendela tempat ku menanti dirinya. Haruskah ku tutup jendela ini? haruskah sekarang?.
“Naya….”
Suara lembut yang tak di nanti pun datang. Sudah saatnya aku harus pergi meninggalkan jendela yang penuh harapan kosong. Walaupun hatiku berat meninggalkan dirinya, tapi aku harus pergi mengikuti suara yang tak kuinginkan itu. Selamat tinggal, selamat tinggal cintaku.
Inspirasi : Melly G – Gantung
set (c) KIRANA



0 comments:
Post a Comment