Hari yang tak diinginkan akhirnya datang. Dan diri ini sudah dipersiapkan untuk segala kondisi yang tak masuk dalam rencana. Terutama untuk bertemu dengannya, dengan seseorang yang sudah meninggalkan serpihan hati ini. Acara perpisahan sekolah, biasana hal yang sangat dinanti oleh banyak siswa, seakan-akan ini adalah kegiatan yang sakral sebelum melepaskan diri dari sekolah yang penuh kenangan. Terlihat di wajah mereka, gembira dan tak ada satupun wajah suram menghiasi acara perpisahan sekolah hari ini. tapi hanya aku yang berwajah murung dari sekian banyak wajah ceria. Aku tak bisa berada di sini, tak bisa aku berada dalam keramaian ini.
Acara berlangsung bagaikan alunan lagu, begitu saja mengalir tanpa henti sampai pada akhirnya harus kembali pulang. Memang wajahku yang suram ini sudah banyak mengundang pertanyaan dari berbagai pihak. Aku hanya menepis dengan tersenyum yang tak bernyawa. Tak lama, seseorang tak kuinginkan datang mendekat. Dan langsung duduk di bangku ku yang memang tak seorang pun ingin berada disana sedari pagi.
Dia : Bolehkah aku duduk disini? Jika kau tak keberatan. (dengan melempar senyum
lembutnya)
Aku : Silahkan saja. Tidak ada larangan, karena memang tempat duduk itu kosong.
Dia : (Langsung duduk dengan tenang dan memandang wajahku)
Aku : Kenapa? Ada yang aneh? (sambil melihat ke diri sendiri)
Dia : Tidak. (dengan senyumannya yang lembut dan tatapan mata yang penuh arti.)
Aku : Mau membicarakan apa lagi? (dengan nada kesal)
Dia : Kita… Mau membicarakan tentang kita.
Aku : (Buat apa dibicarakan lagi?) Bukannya sudah selesai? Untuk apa dibicarakan
lagi?
Dia : Untuk terus mengingatkanmu, bahwa aku takkan pernah meninggalkanmu.
Walaupun aku meninggalkan hatimu.
Aku : Aku tak bisa, aku tak bisa jika kau terus memperlakukan ku seakan tak terjadi
hal yang menyakitkan di antara kita.
Dia : Tapi aku tak bisa melihatmu seperti ini!!! (menatap wajahku dan menggenggam
jemariku.) Aku masih sayang kamu.
Seketika itu jantungku seakan berhenti berdetak dan air mata tak terasa membasahi pipiku yang dengan sigap tangannya mengusap air mata ku yang mengalir. Aku tak bisa menerimap pernyataannya yang menyayangi ku sedangkan dengan tenangnya ia memutuskan hubungan cinta ini?
Dia : Jangan pernah kamu lupakan aku. Jangan pernah!
Aku : Mungkin tak akan pernah melupakanmu, tapi seiring waktu, kau akan tenggelam
di dasar hatiku.
Dia : Tolong…. Tolong, jangan pernah lupakan aku. (Dengan wajahnya yang
memelas, aku benar-benar tak bisa menahan air mataku. Apa yang harus
kuperbuat?)
Aku : Tolong, jangan paksa aku untuk tersenyum untuk mu saat ini. Aku tak bisa
bersikap seolah-olah kau tetap menyinari hidupku seperti biasanya. AKU TAK
BISA!!!
set (c) KIRANA



0 comments:
Post a Comment