Aku terus memandang matahari yang seakan menyentuh wajahku yang sudah berlumuran dengan air mata keputusasaan. Entahlah, aku juga tak mengerti suara hati ini entah mau dibawa kemana. Dengan dentuman suara gitar akustik yang berasal dari headset putih hitam kesayangan ku, mengalun lembut dan penuh rasa ketenangan yang terus menemani kesedihan dan kesepian ku sore ini.
“Mau kemana kah tubuh ini berjalan?” Aku terus bertanya pada diriku yang sedang tak kukenali ini.
Butiran-butiran air mata yang mengandung teriakan-teriakan yang tak bisa kuteriakan secara gamblang kepada dunia. Teriakan keputusasaan, teriakan penyesalan, teriakan ketidakpastian. Aku yang terus memandangi langit dengan sinar matahari sore yang sangat kusuka, dan berharap ia akan datang menjemputku pulang, atau hanya sekedar menemukan ku disini?
“Matahari… aku merindukannya disini, di sampingku…” Aku terus saja bergumam tanpa sadar, terus memanggil-manggil namanya. Dan tak henti-hentinya memanggil nama nya. Senja sudah terasa di sekujur tubuh, saatnya untuk segera pulang. Segera kembali ke dunia asal ku, dimana tanpa dirinya aku pasti bisa menyelam di dunia ku yang suram seperti sedia kala. Aku merapihkan tas ku dan bergegas bangkit dari tempat duduk ku yang nyaman di sore hari ini.
“BUNS!!!!” Suara yang sangat ku kenal, sangat ku tunggu, sangat ku rindukan. Aku langsung menoleh ke arah suara yang memanggil nama ku. Aku melihatnya, melihat matanya, melihat senyumannya, melihat wajahnya yang seakan tak ingin kehilangan ku, kehilangan diriku yang seperti ini. Tanpa basa-basi langsung aku menyambutnya dengan pelukan yang sangat kurindukan. Aku menangis tersedu-sedu di dadanya yang kokoh dan penuh perlindungan. Ya Allah, mengapa hanya dia yang terus ingin kutemui? Banyak pertanyaan serupa berkecamuk di otak ku.
“Buns, pulang yuk! Sudah mau magrib. Yuk!” Dia langsung memegang tangan ku dengan lembut dan mengantarkan ku pulang. Ya Allah, aku tak ingin melepas tangannya walaupun hanya sedetik.
set (c) KIRANA
set (c) KIRANA



0 comments:
Post a Comment